Blog Archives

Oleh-oleh mudik lebaran 2012 (Sambutan orang rumah)

Saat kapal yang aku tumpangi sudah bersandar, aku hanya menunggu di tempat dudukku. Karena barang bawaanku lumayan banyak dan aku malas membawanya sambil berdesak-desakan. Jadi aku memilih keluar saat penumpang sudah sepi. 10 menit aku menunggu, Mas ku datang dan langsung mengangkat barang-barangku, ternyata di luar sudah ada temannya yang menunggu. Aku tidak perlu susah payah lagi mengangkat barang-barangku. Aku hanya berjalan santai tanpa ada beban yang ku angkat..:)

Sesampainya dimobil, aku duduk dikursi belakang dan mulai menjawab pertanyaan seputar perjalanan yang diajukan padaku. 10 menit berlalu, aku sudah sampai dirumah orang tuaku. Melihat ke rumah, aku menjadi terharu. Beberapa saudara sudah berdiri di depan rumah untuk menyambut kedatanganku. Turun dari mobil, aku langsung mendapatkan pelukan hangat..:) senangnya… seakan tak ingin pergi lagi kalau sudah ingat sambutan itu…

Oleh-oleh mudik lebaran 2012 (Kapal Gratis)

Selain fenomena cuaca yang tidak menentu, ada fenomena yang sedikit membuat aku tertawa dan juga kesal kalau baca beritanya. Adalah fenomena tentang kapal gratis yang merupakan program dari Gubernur Jawa Timur, kami menyebutnya dengan Pak Karwo tidak sesuai dengan yang dijanjikan kepada calon pemudik. Kapal yang dijanjikan, menurut informasi yang aku terima adalah kapan dengan kapasitas 500 penumpang dengan 3 lantai. Tapi kenyataannya adalah, kapal yang didatangkan hanya berkapasitas 150 orang dan terbilang kapal kecil. Yang lebih mengecewakan calon penumpang adalah kapal sudah terisi sejak diberangkatkan dari pelabuhan Perak Surabaya, sehingga calon penumpang yang menunggu di Kalianget tidak banyak yang kebagian tempat dan lebih memilih untuk membahayakan dirinya dengan duduk di pagar kapal.

Kekecewaan para calon penumpang yang sudah sangat memuncak membuat mereka ingin melampiaskan kepada Bupati Sumenep yang juga hadir di labuhan pada saat itu. Mereka menuntut agar ada kapal lagi yang diberangkatkan ke Kangean pada hari itu. Mereke dengan bringasnya mengejar mobil bupati yang nyaris rusak di amuk massa. Tapi akhirnya, masalah teratasi. Kapal tambahan (tidak gratis) siap diberangkatkan walaupun masih menyisakan kecewa tapi yang terpenting adalah bisa berangkat menuju Kangean. Berita ini aku dapat dari keponakanku, kebetulan saat kejadian Aku sudah berada di pulau kelahiranku.

Oleh-oleh mudik lebaran 2012 (Kondisi Cuaca)

Sebelum Aku meninggalkan Bogor, kabar tentang kondisi cuaca antara Kalianget-Kangean memang sedang tidak menentu. Ketika aku berada di Sidoarjo, tepatnya pada hari sabtu, tanggal 11 Agustus 2012 ada kabar bahwa keberangkatan kapal hari Senin masih belum pasti, padahal tiket kapal suah ada ditangan.

Kapal yang akan aku tumpangi pada saat itu adalah kapan super cepat (untuk ukuran kapal ke Kangean) yang terbuat dari fiber yang memang tidak anti-ombak dengan waktu tempuh rata-rata hanya 3-4 jam. Berbeda dengan kapal penumpang lainnya yang lebih besar dan lebih berattapi kecepatannya yang lumayan membuat boring selama perjalanan 12 jam mengarungi samudra.

Aku tunggu sampai hari minggu. Jika memang kapal itu batal berangkat, aku harus membatalkan untuk segera ke Kalianget pada malam itu. Karena tidak mungkin aku berlama-lama di Kalianget yang aku sendiri merasa tidak nyaman berada di tempat itu. Karena tidak ada teman bermain juga tidak ada aktifitas lainnya. Selain itu, kantongku bisa terkuras kalu harus berlama-lama di tempat orang.

Akhirnya, kabar baik itu datang. Kapal siap untuk berlayar pada hari senin jam 09.00 WIB. Aku pun bergegas untuk meninggalkan Sidoarjo dan berangkat menuju Kalianget.

Tepat jam 9.00 WIB, kapal sudah mulai bergerak menjauh dari pelabuhan Kalianget. Dalam hati aku berdoa, semoga perjalanan ini aman, nyaman, dan tenang.

1 Jam pertama, aku tidak merasakan sesuatu yang membuatku tidak nyaman, walaupun sedikit oleng ke kiri dan ke kanan, aku anggap itu hal yang biasa aku alami saat naik kapal. 1 Jam berikutnya aku mulai merasakan kapal yang aku tumpangi terombang-ambing di tengah samudra. 1 jam berikutnya lagi alias 3 jam dari keberangkatan, aku merasakan kakiku basah (kebetulan aku duduk didekat jendela. Aku lihat, ternyata air laut sudah masuk ke kabin kapal. Penumpang pun banyak yang panik dan berteriak. Tidak hanya teriak karena panik, tapi banyak juga yang teriak karena muntah dan ada juga yang hanya terdiam (sebagian besar). Aku sendiri hanya terdiam berdoa dalam hati agar tetap dalam perlindungan Allah SWT.

Puncaknya sekitar jam 12.30 WIB, mesin kapal tiba-tiba mati ketika aku merasakan ada ombak besar yang menhantam kapal. Penumpang yang duduk dibelakangku berteriak “Allahu Akbar…”, aku sendiri juga kaget, karena pada saat itu aku sedikit tertidur, tapi beberapa detik kemudian mesin kapal kembali menyala dan 30-45 menit kemudian pulau Kangean sudah mulai terlihat dari atas kapal. Lega sekali rasannya…:)

Oleh-oleh mudik lebaran 2012

Mudik tahun ini agak berbeda, tidak seperti mudik lebaran sebelumnya. Mudik tidak hanya membawa rasa kangen terhadap keluarga, tapi ada misi kecil (tapi besar) yang aku bawa. Tapi bukan itu yang akan aku share disini. Aku hanya ingin berbagi mengenai beberapa hal, peristiwa, kebiasaan dan hal lainnya.

Ada beberapa hal yang aku perhatikan, diantaranya:

· Kondisi cuaca

· Kapal gratis

· Sambutan orang rumah

· Tahlilan 1 Tahun Mbah & Buka Bersama

· Bidan

· Perawat

· Signal

· Lebaran

· Pertanyaan saudara dan teman

· Libur Lebaran

o Bakar Ikan

o Kelapa Muda

· Kehidupan masyarakat

o Kelayan

o Si Bisu

o Si Taksi

· Oleh-oleh

Pulau Kangean terdahulu. . .

Menurut cerita, asal mula pulau ini apabila air laut surut baru dapat dilihat dari jauh, sedangkan apabila air laut pasang, maka akan terendam dibawah muka air, olehkarena itu pilau ini dinamakan Pulau Kangean yang asal perkataan Madura “Ka-aengan” yang artinya terendam pada air.
Oleh raja-raja di Sumenep pada jaman dahulu kala, pulau ini merupakan tempatnya orang-orang yang mendapatkan hukuman berat karena kesalahan yang besar.
Berhubung dengan penghasilan yang didapat dari lautan (ikan, akar bahar, aneka bebatuan), kemudian hasil-hasil hutan dan hasil bumi (sawah, ladang), maka pulau ini menjadi salah satu pusat perdagangan dilautan, maka banyak orang-orang dari Sumenep maupun tempat lainnya (bahkan dari kepulauan Kalimantan dan Sulawesi) mau berpindah dan berumah tangga di Pulau Kangean.
Oleh sebab itu Pulau Kangean dapat dikatakan kepulauan yang relatif baru, maka penduduknya tidak mengenal agama Hindu karena agama yang dianut oleh penduduk setempat adalah agama Islam.
Sewaktu jaman Compagnie Belanda, kepulauan ini tidak dapat mendapat perhatian pemerintah. Pada tahun 1763 Masehi datang utusan Compagnie Belanda meninjau kangean dan kepulauannya. Kemudian pada tahun 1798 Masehi datang pula peninjau dari Compagnie Belanda berhubung dengan adanya kerusuhan hebat di Kangean yang disebabkan terjadinya kelaparan sehingga diantara golongan pemerintah dibunuh oleh rakyatnya.
Di Kangean terdapat sebuah gua yang diberi nama “Gua Kuning”. Banyak orang yang menyangka bahwa gua kuning tersebut merupakan tempat bertapanya Putri Kuning (Ibunda Jokotole), tetapi ternyata gua tersebut bukan tempat pertapaannya Putri Kuning karena tempat pertaannya Putri Kuning adalah di Gunung Geger Kabupaten Bangkalan.
Disebuah pualau kecil terletak disebelah barat Pulau Kangean ada satu kuburan yang dikeramatkan oleh orang dipulau Kangean dan sekitarnya. Pulau tersebut bernama Pulau Mamburit dan kuburan keramat itu disebut “Bhuju’ Mamburit“.
Menurut cerita orang Kangean, kuburan tersebut merupakan kepala dari seorang Sajid yang terkenal sebagai penyebar agama Islam yang terdampar ditepi laut sedangkan badannya tidak diketahui beradaannya.
Diwaktu jaman pemerintahan Belanda sebelum Jepang, Pulau Sapekan yang termasuk daerah Kangean merupakan penghasil ikan pindang yang terbesar bila dibandingkan dengan daerah lainnya di Pulau Madura. Sedangkan hasil lain dari pulau ini adalah kopra dan kayu hutan, kayu bakar dan arang.
Apabila ada orang sebelum jaman Jepang menyebutkan “Boschwezen” maka sebenarnya berarti “Tambang Kangean” karena Kangean merupakan satu-satunya tempat yang menghasilkan “Boschwezen” diseluruh kep[ulauan Madura sehingga pemerinth Balanda saat itu banyak sekali memindahkan orang-orang dari daerah lain seperti Kediri dan Lamongan untuk dipekerjakan di alas “Boschwezen” yang disebut daerah “Tambajangan“. Dan pada waktu itu ada pula pemberian ijin (consessie) kepada seorang Formosa bernama Khan Tian Ting untuk mendirikan perusahaan pembuat arang yang terbesar di seluruh Madura.